Terkait dengan kehidupan manusia, Islam memberi banyak perhatian pada aspek tarbiyah (pendidikan). Diantara bukti yang dapat diungkapkan adalah banyaknya istilah Ar Rabb yang digunakan dalam Al Qur′an, yang menurut Ibnu Manzur, diturunkan dari akar yang sama dengan kata tarbiyah. Abul A′la Al Maududi menyatakan, "mendidik dan memberikan perhatian" adalah salah satu dari makna-makna kata Rabb. Al Qurthubi berpendapat, kata Rabb dipakai untuk menggambarkan siapa saja yang melakukan sesuatu menurut cara yang sempurna.
Ar Razi membuat perbandingan antara Allah sebagai Murabbi dan manusia sebagai murobbi. Ia menyatakan bahwa Allah sebagai Murobbi berbeda dengan manusiayang tahu betul dengan segala kebutuhan yang dididiknya lantaran Dia adalah Dzat Pencipta. "Perhatiannya tidak terbatas hanya pada sekelompok manusia; Allah memperhatikan dan mendidik seluruh makhluk dan karenanya kemudian digelari Rabbul Alamin", lanjut Ar Razi.
Abdurrahman Al Bani mengambil empat unsur penting dalam pendidikan. Pertama, menjaga dan memelihara fitrah obyek didik. Kedua, mengembangkan bakat dan potensi obyek didik sesuai kekhasan masing-masing. Ketiga, mengarahkan potensi dan bakat tersebut agar mencapai kebaikan dan kesempurnaan. Keempat, seluruh proses tersebut dilakukan secara bertahap.
Segala sisi yang memungkinkan hasil tarbiyah menjadi lebih baik, perlu mendapat perhatian dari para Da′i. Sebagaimana dikemukakan oleh Muhammad Quthb bahwa metodologi Islam dalam melakukan tarbiyah adalah dengan melakukan pendekatan yang menyeluruh terhadap wujud manusia, sehingga tidak ada yang tertinggal dan terabaikan sedikitpun, jasmani maupun rohani, kehidupan secara fisik maupun mental, dan segala aktivitasnya dimuka bumi ini. Ia bukan model pendidikan yang hendak mematikan potensi atau memandulkan bakat manusia dalam wacana kritik pendidikan-kapitalis, proses pematian atau pemandulan ini oleh Paulo Freire sering digambarkan sebagai "Proses dehumanisasi".
"Islam tidak hanya menmberikan konsumsi yang tepat pada setiap segi kemanusiaan, tetapi juga memberikan takaran pada setiap bagian secara tepat, tidak lebih dan tidak kurang. Setelah masing-masing menerima bagianyya secara tepat dengan takaran yang tepat pula, manusia bekerja dengan rajin, produktif dan aktif sepanjang hidupnya", tulis Muhammad Quthb tentang proses Tarbiyah Islamiyah.
Tujuan Tarbiyah Islamiyah
Tujuan tertinggi dari proses tarbiyah, menurut Omar Mohammad Al Toumy Al Syaibani, bias dirumuskan dengan beberapa rumusan berikut: perwujudan diri, persiapan untuk kewarganegaraan yang baik, pertumbuhan yang menyeluruh dan terpadu, serta persiapan untuk kehidupan dunia dan akhirat. Dengan demikian, proses tarbiyah merupakan proses penyiapan anggota (tarbiyah) guna mencapai tujuan tertinggi tersebut, atau dalam bahasa Muhammad Quthb diistilahkan dengan ungkapan ringkas, "manusia yang baik", sebagaimana ungkapan Al Qur′an :
"Sesungguhnya orang yang terbaik diantara kalian adalah yang paling bertakwa" (Al Hujurat:13).
Secara global tujuan tarbiyah Islamiyah, sebagaimana dituliskan Dr. AliAbdul Halim Mahmud adalah "menciptakan keadaan yang kondusif bagi manusia untuk hidup didunia secara lurus dan baik, serta hidup diakhirat dengan naungan ridha dan pahala Allah SWT". Sedangkan rumusan tujuan rincinya adalah sebagai berikut:
Ibadah kepada Allah semata sesuai dengan syari ′atNya.
"Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada Aku" (Adz Dzariyat:56)
Tegaknya khalifah Allah dimuka bumi.
"Sesungguhnya Aku hendak menjadikan manusia sebagai khalifah dimuka bumi" (Al Baqoroh :30)
Saling kenal mengenal sesama manusia
"Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal" ( Al Hujurat : 13 )
Kepemimpinan dunia
"Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman diantara kamu dan mengerjakan amal-amal saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa. Dan sesungguhnya Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhaiNya untuk mereka dan Dia bener-bener akan menukar ( keadaan) mereka sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa" ( An Nur : 55 )
Menghukum dengan syari′at
"Kemudian Kami jadikan kamu berada diatas suatu syari′at (peraturan) dan urusan (agama) itu, maka ikutilah syari′at itu" (Al Jatsiyah : 18)
"Hendaklah kamu memutuskan perkara diantara mereka menurut apa yang diturunkan oleh allah dan janganlah mengikuti hawa nafsu mereka. Berhati-hatilah kamu terhadap mereka supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebagian apa yang telah diturunkan oleh Allah kepadamu" ( Al Maidah : 49 )





0 komentar:
Posting Komentar